UTS Sejarah Peradaban Islam

Jawablah dengan singkat dan jelas!
1. Sebutkan dan jelaskan kondisi masyarakat jazirah Arab sebelum datangnya Islam…..
2. Sebutkan kemajuan-kemajuan peradaban yang ditinggalkan pada masa Khulafaur Rasyidin……..
3. Apa alasanya pada masa 2 khalifah terakhir, yaitu Khalifah Utsman dan Ali dikategorikan sebagai masa disintegrasi umat Islam? Dan faktor apa yang menyebabkannya, sebutkan……..
4. Pada masa kepemimpinan siapa Bani Umayah mengalami puncak kemajuan atau kejayaan? Apa alasannya? Dan sebutkan peninggalan-peningggalannya? Serta sebutkan faktor-faktor yang membuat Bani Umayah mengalami kehancuran…..
5. Pada masa kepemimpinan siapa Bani Abbasuyah mengalami puncak kemajuan atau kejayaan? Apa alasannya? Dan sebutkan peninggalan-peningggalannya? Serta sebutkan faktor-faktor yang membuat Bani Abbasiyah mengalami kehancuran…..
6. Sebutkan dasar-dasar yang dilakukan Nabi Muhammad dalam rangka membangun pemerintahan di kota Madinah, sehingga beliau terkategorikan sebagai kepala pemerintahan di sana……..
Ketentuan-ketentuan:
1. Diketik dalam kertas A4, margin standar jurnal, dan format file berupa PDF.
2. Jawaban tidak boleh mirip dengan teman anda, jika ada yang mirip maka dianggap tidak mengikuti UTS.
3. Pada setiap jawaban dicantumkan referensinya, minimal 3 buah buku atau data yang lainnya.
4. Dikumpulkan pada paling lambat tanggal 29 Oktober 2011, tanpa terkecuali.


Jawaban: :
1.) Kondisi Geografis : Sebelum penyebaran islam bangsa arab tidak terlalu dikenal oleh bangsa asing, karena kondisi geografis semenanjung arab yang didominasi gurun pasir tidak menarik perhatian bangsa lain untuk menjajahnya.
Jazirah Arab masa itu merupakan daerah lalu-lintas perdagangan yang diseberanginya melalui Mesir atau melalui Teluk Persia, lewat terusan yang terletak di mulut Teluk Persia itu. Sudah tentu wajar sekali bilamana penduduk pedalaman jazirah Arab itu menjadi raja sahara
Kondisi Sosial dan Politik : Bangsa arab bersifat kesukuan sampai menekankan ikatan kesukuan melibihi ikatan apapun termasuk keyakinan, terjadinya crisis moral dan perbudakan, sering terjadi peperangan antar suku, suku arab pedalaman hidup nomaden dan buta huruf sedangkan suku arab pesisir hidup menetap dan didaerah tertentu ada yang bisa baca tulis.
Kondisi Keagamaan : Meskipun Yaman mempunyai peradaban yang paling tinggi di antara seluruh jazirah Arab, yang disebabkan oleh kesuburan negerinya serta pengaturan pengairannya yang baik, namun ia tidak menjadi pusat perhatian negeri-negeri sahara yang terbentang luas itu, juga tidak menjadi pusat keagamaan mereka. Tetapi yang menjadi pusat adalah Mekah dengan Ka’bah sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang berkunjung dan ke tempat itu pula orang-orang menujukan pandangan. Juga sebagai markas perdagangan jazirah Arab yang istimewa, secara tidak langsung Mekah dianggap sebagai ibukota seluruh jazirah.
Beberapa kepercayaan yang ada di jazirah arab sebelum kedatangan islam:
 Agama tauhidullah atau hanif (monotheis), agama yang dibawa oleh nabi ibrahim dan isma’il
 Agama Watsani (Agama Nabi Ibrahim Plus Menyembah Berhala) Atau Agama Paganisme (Penyembah Berhala)
 Kristen (yaman, najran, dan syam) dan yahudi (yaman dan yastrib) masuk melalui syria dan ethiopia
 Majusi
Haikal, M. Husain.2002.ebook Sejarah Hidup Muhammad.Terjemah oleh Ali Audah.konversi ebook oleh www.pakdenono.com. Bagian: 1.
slide materi presentasi SPI pert.V.
2.) Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq :
• Pembukuan Al-Qur’an

Khalifah Umar Ibn Al-Khaththab :
• Pemberlakuan Ijtihad
• Menghapuskan zakat bagi para muallaf
• Mengahpuskan hukum mut’ah
• Lahirnya ilmu Qira’at
• Penyebaran Ilmu Hadits
• Menempa mata uang dan
• menciptakan tahun Hijriah

Khalifah Ustman Ibn Affan
• Penaskahan Al-Qur’an
• Perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram
• Didirikannya masjid Al-Atiq di utara benteng babylon
• Membangun Pengadilan
• Membnetuk Angkatan Laut
• Membentuk Departemen:
i. Militer
ii. Baitrul Mall
iii. Perpajakan
iv. Pengadilan

Ali Ibn Abi Thalib
• Terciptanya ilmu bahsa/nahwu (Aqidah nahwiyah)
• Bermkebangnya ilmu Khatt al-Qur’an
• Berkembangnya Sastra
http://yeniqa.wordpress.com/2009/09/09/peradaban-islam-zaman-khulafaur-rasyidin/

3.) – Kekacauan politik dan pemerintahan
- Pemberontakan terhadap khalifah
- Perpecahan umat
- Terjadi Perang saudara

Ustman adalah pemimpin yang sangat sederhana, berhati lembut dan sangat shaleh,
sehingga kepemimpinan beliau dimanfaatkan oleh sanak saudaranya dari keluarga besar
Bani Umayah untuk menjadi pemimpin di daerah-daerah.
Oleh karena itu, orang-orang menuduh Khalifah Ustman melakukan nepotisme,
dengan mengatakan bahwa beliau menguntungkan sanak saudaranya Bani Umayyah,
dengan jabatan tinggi dan kekayaannya. Mereka juga menuduh pejabat-pejabat Umayyah
suka menindas dan menyalahkan harta baitul maal. Disamping itu Khalifah Utsman
dituduh sebagai orang yang boros mengeluarkan belanja, dan kebanyakan diberikan
kepada kaum kerabatnya sehingga hampir semuanya menjadi orang kaya.

Rasa tidak puas memuncak ketika pemberontak dari Kufah dan Basrah bertemu dan
bergabung dengan pemberontak dari Mesir. Wakil-wakil mereka menuntut diangkatnya
Muhammad Ibnu Abu Bakar sebagai Gubernur Mesir. Tuntutan dikabulkan dan mereka
kembali. Akan tetapi di tengah perjalanan mereka menemukan surat yang dibawa oleh
utusan khusus yang isinya bahwa wakil-wakil itu harus dibunuh ketika sampai di Mesir.
Yang menulis surat tersebut menurut mereka adalah Marwan ibn Hakam.
Mereka meminta Khalifah Ustman menyerahkan Marwan, tetapi ditolak oleh Khalifah.
Ali bin Abi Tholib mencoba mendamaikan tapi pemberontak berhasil mengepung rumah
Ustman dan membunuh Khalifah yang tua itu ketika membaca al-Qur’an pada 35 H/17
Juni 656 M. Pembunuhan ini menimbulkan berbagai gejolak pada tahun-tahun berikutnya,
sehingga bermula dari kejadian ini dikenal sebutan al-bab al-maftukh (terbukanya pintu
bagi perang saudara).
Menurut ahli sejarah berkebangsaan Jerman Mr. Welhausen “Pembunuhan Ustman
yang bermotif politik itu lebih berpengaruh terhadap lembaran sejarah Islam dibandingkan
dengan sejarah-sejarah Islam yang lainnya. Kesatuan umat Islam yang baru terbentuk
oleh dua Khalifah pendahulunya mulai sirna dan keruwetan muncul di tengah-tengah
umat Islam. Selanjutnya masyarakat Muslim terpecah menjadi dua golongan yaitu
Umaiyah dan Hasyimiyah. Golongan Umaiyah menuntut pembalasan atas darah Ustman
sepanjang pemerintahan Ali hingga terbentuknya Dinasti Umaiyah”.
Ibnu Saba’, nama lengkapnya Abdullah bin Saba’, adalah seorang Yahudi dari Yaman
yang masuk Islam. Ia merupakan provokator yang berada di balik pemberontakan terhadap
Khalifah Ustman bin Affan. Ibnu Saba’ melakukan semuanya itu didasarkan motivasi
dirinya untuk meruntuhkan dasar-dasar Islam yang telah dipegang teguh oleh umat Islam.
Niatnya masuk Islam hanyalah sebagai kedok belaka untuk merongrong kewibawaan
pemerintahan Khalifah Ustman, sehingga muncullah kerusuhan yang terjadi di berbagai
wilayah kekuasaan Islam di antaranya adalah Fustat (Kairo), Kufah, Basrah, dan Madinah
(Ali, 1995:129).

Ali Ibn Abi Thalib tampil memegang pucuk kepemimpinan negara di tengah-tengah kericuhan dan huru-hara perpecahan akibat terbunuhnya Usman oleh kaum pemberontak. Ali Ibn Abi Thalib dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin di madinah dalam suasana sangat kacau, dengan pertimbangan jika khalifah tidak segera dipilih dan di angkat, maka ditakutkan keadaan semakin kacau. Ali Ibn Abi Thalib di angkat dengan dibaiat oleh masyarakat.
Dalam masa pemerintahannya, Ali Ibn Abi Thalib mengahadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Ibn Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh Usman dan mereka menuntut bela’ terhadap daerah Usman yang telah ditumpahkan secara dhalim. Perang ini dikenal dengan nama perang jamal.5
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Ibn Abi Thalib juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah. Yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaannya. Pertempuran yang terjadi dikenal dengan perang shiffin, perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelsaikan maslah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga Al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).6
http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/islam-masa-khulafaur-raosyidin.pdf
http://yeniqa.wordpress.com/2009/09/09/peradaban-islam-zaman-khulafaur-rasyidin/

4. ) Umayah

- Perluasan daerah pemerintahan islam
- Kemajuan tradisi intelektual dan ilmu pengetahuan
- Pada bidang lainnya:
Pembangunan yang dilakukan Muawiyah diantaranya mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Khalifah Abdul Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Keberhasilan Khalifah Abdul Malik diikuti oleh puteranya Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) seorang yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk orang cacat. Semua personel yang terlibat dalam kegiatan yang humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.

Pada lapangan perdagangan yakni pada saat peradaban Islam telah menguasai dunia perdagangan sejak permulaan Daulat Umayyah (661-750M), dimana pesisir lautan Hindia sampai ke Lembah Sind, sehingga terjalin kesatuan wilayah yang luas dari Timur sampai Barat yang berimplikasi terhadap lancarnya lalu-lintas dagang di dataran antara Tiongkok dengan dunia belahan Barat pegunungan Thian Shan melalui Jalan Sutera (Silk Road) yang terkenal itu, yang kemudian terbuka pula jalur perdagangan melalui Teluk Parsi, Teluk Aden yang menghubungkannya dengan kota-kota dagang di sepanjang pesisir Benua Eropa, menyebabkan “kebutuhan Eropa pada saat itu amat tergantung pada kegiatan dagang di dalam wilayah Islam”.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
4. Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi'ah, dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah
http://pustaka.abatasa.com/pustaka/detail/10/150/khilafah-bani-umayyah-masa-kemajuan-islam
http://www.dudung.net/artikel-islami/jejak-kegemilangan-umat-islam-dalam-pentas-sejarah-dunia.html
Nasution Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid 1, Jakarta : 1979

5.) Abbasiyah

Pada saat itu umat Islam telah berhasil melakukan sebuah akselerasi, jauh meninggalkan peradaban yang ada pada saat itu. Hidupnya tradisi keilmuan, tradisi intelektual melalui gerakan penerjamahan yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan penyelidikan yang didukung oleh kuatnya elaborasi dan spirit pencarian, pengembangan ilmu pengetahuan yang berkembang secara pesat tersebut, mengakibatkan terjadinya lompatan kemajuan di berbagai bidang keilmuan yang telah melahirkan berbagai karya ilmiah yang luar biasa.

Pada masa-masa permulaan perkembangan kekuasaan, Islam telah memberikan kontribusi kepada dunia berupa tiga jenis alat penting yaitu paper (kertas), compass (kompas) and gunpowder (mesiu). Penemuan alat cetak (movable types) di Tiongkok pada penghujung abad ke-8 M dan penemuan alat cetak serupa di Barat pada pertengahan abad 15 oleh Johann Gutenberg, menurut buku Historians’ History of the World, akan tidak ada arti dan gunanya jika Bangsa Arab tidak menemukan lebih dahulu cara-cara bagi pembuatan kertas.

Pencapaian prestasi yang gemilang sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang dilakukan pada zaman Daulat Abbasiah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan muslim yang mashur dan berkaliber internasional seperti : Al-Biruni (fisika, kedokteran); Jabir bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism) pada ilmu matematika; Al-Kindi (filsafat); Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi); Abu Ali Al-Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik; Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd (Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi). Mereka telah meletakkan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Faktor kemunduran :
1. Luasnya wilayah kekuasaan, yang menyebabkan sulitnya komunikasi antara pusat dengan daerah. Dan juga, tingkat kepercayaan di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
2. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
3. Keuangan negara sangat sulit, karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Bagdad.

http://www.dudung.net/artikel-islami/jejak-kegemilangan-umat-islam-dalam-pentas-sejarah-dunia.html
http://pustaka.abatasa.com/pustaka/detail//149/khilafah-bani-abbas-masa-kemajuan-islam
Nasution Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid 1, Jakarta : 1979



6.) - Mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar
- Membuat perjanjian (undang-undang) antar penduduk Madinah / Piagam Madinah

Syafi’I Antonio, Muhammad.2009Muhammad The Super Leader Super Manager.Jakarta : ProLM Centre & Tazkia Publishing.

Previous
Next Post »