Baru-baru ini saya duduk melamun di depan IDE, melihat baris kode yang sudah 10 tahun ini jadi teman setia. Saya tersadar, sejak lulus akademi (kuliah), saya sudah menghabiskan satu dekade menjadi seorang Anbu.
Bagi teman-teman yang tumbuh bersama Naruto, kalian tahu siapa Anbu. Mereka elit, bekerja dalam gelap, dan sangat cepat menyelesaikan misi (fix bug/coding fitur). Saya bangga dengan topeng itu. Rasanya keren kalau bisa jadi "superstar" yang paling diandalkan saat desa (perusahaan) sedang kacau.
Tapi, setelah 10 tahun lari-lari di lapangan, saya mulai merasa... mungkin ini waktunya saya memilih jalan ninja baru.
10 Tahun "Grinding" Chakra
Menjadi agen elit selama sepuluh tahun memberikan saya banyak hal. Saya jadi tahu bau-bau bug sebelum dia muncul. Saya bisa koding sambil tutup mata (oke, ini hiperbola). Tapi di sisi lain, saya juga mulai merasa lelah kalau terus-terusan jadi "pemadam kebakaran".
Kadang saya berpikir: "Sampai kapan saya mau lari mengejar misi level D setiap hari? Apa saya mau sampai usia 40 nanti tetap jadi orang yang paling pusing kalau ada crash malam hari?"
Menjadi "tukang koding" yang jago itu pilihan hidup yang valid banget, dan banyak yang bahagia di sana. Tapi buat saya pribadi, saya mulai merasa ada panggilan untuk ganti peran.
Belajar Menjadi Guru Akademi
Saya mulai melirik sosok seperti Kakashi atau Minato. Mereka tidak lagi fokus menunjukkan seberapa hebat Chidori atau Rasengan mereka, tapi fokus ke seberapa hebat murid-murid (tim) yang mereka bimbing.
Saya menyebutnya transisi menjadi Guru Akademi.
Bukan berarti berhenti koding total, tapi porsinya bergeser. Sekarang, saya lebih merasa puas kalau bisa:
Menulis Gulungan Jutsu (SOP): Bukan sekadar fix bug, tapi nulis cara fix-nya biar tim support bisa mandiri. Rasanya senang melihat mereka bisa "bertarung" sendiri tanpa harus manggil saya setiap menit.
Memahami Peta Desa (Konteks Bisnis): Dulu saya bodo amat sama urusan "duit" perusahaan. Sekarang saya mulai refleksi: kalau saya paham gimana desa ini cari modal, saya bisa kasih saran teknis yang lebih tepat sasaran.
Membangun Sistem, Bukan Cuma Kode: Daripada capek nangkepin kucing hilang terus (bug remeh), mending saya bantu bangun pagar yang lebih kuat (sistem/arsitektur).
Rasa Kagok yang Menyenangkan
Jujur, transisi ini rasanya aneh banget.
Ada rasa bersalah kalau seharian nggak "nyangkul" kode. Muscle memory saya teriak, "Woi, kamu nggak kerja ya cuma bikin dokumentasi doang?". Tapi pelan-pelan saya sadar, ini adalah bentuk kontribusi yang levelnya berbeda.
Saya nggak bilang semua orang "harus" berubah. Ada orang yang memang passion-nya murni di kode sampai akhir, dan itu keren banget. Tapi buat saya, pensiun pelan-pelan dari misi lapangan Anbu dan mulai partisipasi di akademi sebagai mentor adalah cara saya untuk tetap "berumur panjang" di dunia IT.
Penutup: Setiap Orang Punya Jalan Ninjanya
Ternyata, jadi ninja itu bukan cuma soal seberapa banyak misi yang kita selesaikan, tapi tentang bagaimana kita memilih untuk berkontribusi saat rambut mulai memutih (atau rontok karena kebanyakan koding, hehe).
Buat teman-teman yang sudah 10 tahun lebih di industri ini, gimana jalan ninja kalian? Masih nyaman dengan topeng Anbu, atau sudah mulai gatal mau jadi Guru Akademi juga?
Apapun pilihannya, yang penting kita tetap bisa menjaga "desa" kita masing-masing dengan cara yang paling bikin kita bahagia.
Generated by AI, tapi isi kontennya dari otaku.

Komentar
Posting Komentar