Apakah Al Quran Itu Benar & Murni?

Belakangan ini, aku sering merenung tentang betapa singkatnya waktu yang kita miliki. Hidup ini rasanya seperti taruhan yang besar; kita berjalan di atas waktu yang terus berkurang, dan dalam jeda yang pendek ini, kita dituntut untuk memilih. Memilih apa yang ingin kita percayai, dan ke mana kita akan menggantungkan sisa hidup kita.

Pernah ada masa di mana keraguan itu datang mengetuk pintu hatiku. Aku bertanya pada diri sendiri: Benarkah Tuhan itu ada? Apakah Islam memang jalan yang lurus? Dan kalaupun jawabannya ada di dalam Al-Qur'an, bagaimana aku bisa yakin bahwa apa yang ku baca hari ini masih murni, tanpa ada campur tangan manusia di dalamnya?

Dalam tulisanku sebelumnya, Simfoni Penciptaan, aku sempat mengagumi harmoni alam semesta selama belasan miliar tahun. Namun, kekaguman itu justru membawaku pada pencarian yang lebih dalam. Aku merasa, rasanya too good to be true jika semua harmoni ini terjadi hanya karena kebetulan. Terlalu banyak variabel yang harus "pas" agar manusia bisa eksis. Melenceng sepersikian detik saja saat awal penciptaan, atau bergeser sedikit saja konstanta fisik alam semesta, maka segalanya akan jauh berbeda—atau mungkin tidak pernah ada.

Ketidaksengajaan yang begitu presisi itu sulit diterima nalarku. Seolah-olah ada suara yang berbisik lembut, "Ya, Aku memang ada di sini."

Isyarat yang Menyapa Logika

Ketika mulai membuka kembali lembaran Al-Qur'an, aku menemukan isyarat-isyarat yang rasanya tidak mungkin ditulis oleh manusia di abad ke-7. Ada kalimat-kalimat yang menggambarkan fenomena alam yang baru bisa kita buktikan berabad-abad kemudian:

  • Tentang Embriologi: "Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (QS. Al-Mu’minun: 14)

  • Tentang Batas Dua Laut (Halocline): "Dia membiarkan dua laut mengalir yang kemudian keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing." (QS. Ar-Rahman: 19-20)

  • Tentang Siklus Air: "Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarahkan awan perlahan-lahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk, maka engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya..." (QS. An-Nur: 43)

  • Tentang Sidik Jari: "Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna." (QS. Al-Qiyamah: 3-4)

  • Tentang Titik Terendah Bumi (Kekalahan Romawi): "Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang." (QS. Ar-Rum: 2-3)


Menjaga "Pesan" Itu Tetap Utuh

Namun, skeptisismeku kembali bertanya: Bagaimana jika teks ini sudah berubah? Di sinilah aku belajar tentang janji penjagaan-Nya:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)

Menariknya, janji ini tidak bekerja secara gaib begitu saja, tapi lewat sistem kolektif yang sangat cerdas. Aku mencoba membayangkannya dengan analogi yang sederhana: Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Jika hari ini aku menulis lirik "Hiduplah Indonesia Maya" di sebuah artikel, aku yakin hampir semua orang yang membacanya akan langsung sadar bahwa itu salah. Kenapa? Karena lagu itu sudah tertanam di memori kolektif jutaan orang. Kita tidak perlu melihat naskah aslinya di museum untuk tahu bahwa kata yang benar adalah "Raya".

Begitulah cara Al-Qur'an dijaga. Sejak zaman Rasulullah, ia dihafal oleh ribuan orang dan dituliskan secara rigid. Di masa Abu Bakar, Zaid bin Tsabit hanya menerima ayat jika ada catatan tertulis dan dua saksi yang mendengar langsung ayat itu turun. Lalu di masa Utsman bin Affan, naskah ini distandarisasi agar tidak ada perbedaan dialek.

Antara jutaan hafalan di kepala manusia dan naskah yang tertulis, keduanya saling mengunci. Jika satu huruf saja diubah di satu belahan bumi, jutaan penghafal di belahan bumi lain akan langsung menyadarinya. Kemurniannya terjaga oleh kesaksian massal yang mustahil untuk dimanipulasi.

Sebuah Standar Otentisitas

Sebagai bahan renungan tambahan, jika kita membandingkan dengan catatan sejarah atau kitab suci kuno lainnya, metodologi Al-Qur'an ini sangat langka. Banyak teks kuno baru dituliskan puluhan hingga ratusan tahun setelah tokoh utamanya tiada, seringkali menggunakan bahasa yang sudah berbeda dari bahasa asli tokoh tersebut. Tak jarang, naskahnya muncul dalam berbagai versi yang sulit dilacak riwayatnya (sanad), sehingga sulit membedakan mana yang murni firman Tuhan dan mana yang merupakan pendapat atau tafsiran manusia.

Sedangkan Al-Qur'an, ia tetap menggunakan bahasa aslinya saat pertama kali turun kedunia dalam bahasa Arab, ditulis dan dihafal secara massal sejak tokoh utamanya masih hidup, dengan silsilah penjagaan (sanad) yang terang benderang hingga hari ini.

Titik Terang yang Membuka Jalan

Menemukan bahwa Al-Qur'an selaras dengan ilmu pengetahuan, dan melihat bagaimana sejarah menjaganya dengan begitu jujur, memberikanku sebuah ketenangan yang berbeda. Tapi, ketenangan ini bukan berarti pencarianku selesai. Justru sebaliknya.

Bagiku, keyakinan ini bukan sebuah pelabuhan terakhir di mana aku bisa berhenti berpikir. Ia justru menjadi titik terang yang membuat jalan di depanku terlihat lebih jelas. Jika pesan ini memang benar dan terjaga murni dari Sang Pencipta, maka setiap ayatnya adalah undangan untuk belajar lebih dalam lagi.

Hidup kita memang singkat, dan di tengah waktu yang terbatas ini, aku merasa baru saja menemukan kompas yang berfungsi dengan baik. Sekarang, perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai. Masih banyak misteri tentang kehidupan, etika, dan hakikat keberadaan kita yang menunggu untuk digali lebih jauh dengan panduan yang lebih kokoh.

Komentar